21/02/2026
Plaaaakkkkk...... Tuman !!!! 😂
Sejarah Islam di Nusantara menyimpan satu nama yang hingga kini memicu perdebatan panas: Habib Usman bin Yahya. Di satu sisi, ia adalah otoritas hukum tertinggi yang dihormati sebagai M***i Agung Batavia, namun di sisi lain, sejarah mencatatnya sebagai intelektual yang diduga kuat "menjual" fatwanya demi kepentingan kolonial Belanda.
Fakta yang paling mengguncang adalah posisi resminya sebagai Honorary Adviser for Arab Affairs bagi pemerintah Hindia Belanda. Sejak tahun 1889, Habib Usman secara rutin menerima tunjangan sebesar 100 gulden per bulan—jumlah yang sangat mewah pada zaman itu—hanya untuk memberikan masukan intelijen mengenai dinamika komunitas Arab dan pergerakan Islam kepada pihak penjajah. Hal ini memicu pertanyaan besar: bagaimana mungkin seorang pemuka agama besar masuk dalam daftar penggajian mereka yang menindas bangsanya sendiri?
Puncak kemarahan publik meledak pada September 1898. Di tengah penderitaan rakyat akibat penjajahan, Habib Usman justru memimpin doa khusus di Masjid Pekojan untuk kesehatan, umur panjang, dan kejayaan Ratu Wilhelmina dari Belanda. Ia memohon agar kekaisaran penjajah itu "bersinar terang," sebuah tindakan yang langsung dicap oleh aktivis Muslim di Singapura dan Jawa sebagai "Khutbah Penjilat" (sycophant’s sermon). Kritik pedas menghujamnya, menuduhnya sebagai tokoh yang berpura-pura saleh demi mendapatkan kedudukan di mata pemerintah kolonial.
Ketika para petani di Banten mengangkat senjata melakukan jihad melawan penindasan pada 1888, Habib Usman justru mengeluarkan fatwa yang menusuk dari belakang. Melalui kitabnya Minhaj al-Istiqamah, ia melabeli perlawanan suci tersebut sebagai "Ghurur" atau delusi spiritual yang menyesatkan. Baginya, stabilitas pemerintahan Belanda lebih penting daripada darah para pejuang yang ia anggap sia-sia. Sikap akomodatif ini menjadikannya sekutu emas bagi Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis yang menyamar dengan nama "Abdul Ghaffaar" demi mematikan potensi revolusioner umat Islam.
Tak hanya pro-penjajah, Habib Usman juga dikenal sangat keras membendung gerakan modernisme Islam. Ia menyerang pemikiran Muhammad Abduh dari Mesir dan mengharamkan penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa lokal dengan alasan hal itu hanya akan menyesatkan kaum awam. Bagi para pengkritiknya, ini dipandang sebagai taktik sistematis untuk menjaga agar masyarakat tetap patuh pada struktur tradisional yang sudah sepenuhnya dikendalikan oleh birokrasi Belanda.
Habib Usman bin Yahya tetap menjadi teka-teki sejarah yang kelam: seorang raksasa literasi yang membawa mesin cetak modern ke Batavia, namun diduga menggunakan ujung penanya untuk melanggengkan kekuasaan asing di tanah air.
Sumber Utama:
* Nico J.G. Kaptein, Islam, Colonialism and the Modern Age in the Netherlands East Indies: A Biography of Sayyid ʿUthman.
* Azyumardi Azra, Ulama Hadrami di Nusantara.
* Arsip Historia, "Doa Habib untuk Ratu Belanda".
* UIN Siber Syekh Nurjati, "Pemikiran Habib Usman Mengenai Pemberontakan Banten".
* Jurnal Intizar, "Penolakan Habib Usman Terhadap Ide Pembaharuan".
***iBelanda