20/02/2026
Ada cerita baru nieh guys , alurnya bikin ga bisa tidur lho hehe
Season 1 – Part 1: “Lift Lantai Dua Belas” 🏢
Jakarta tidak pernah benar benar tidur.
Tapi pagi itu, aku berharap kota ini berhenti sebentar saja.
Namaku Kirana Adisty.
Arsitek. 29 tahun. Perfeksionis. Sedikit galak kalau kurang tidur.
Dan hari ini… presentasi terpenting dalam karierku.
Aku berdiri di dalam lift gedung perkantoran Sudirman dengan map besar di tangan. Nafasku pelan, mencoba stabil.
Ting.
Lift berhenti di lantai delapan.
Pintu terbuka.
Dan masuklah dia.
Tinggi. Kemeja putih rapi. Wajah terlalu tenang untuk jam setegang ini.
Dia berdiri di sampingku.
Lift tertutup.
Sepuluh detik pertama aman.
Detik kesebelas… goyang.
Lift berhenti mendadak.
Lampu redup.
Aku membeku.
“Please jangan sekarang,” gumamku.
Pria di sampingku menekan tombol darurat.
Tidak ada respon.
Dia mengetuk panel. “Halo?”
Sunyi.
Aku mulai merasakan jantungku tidak bersahabat.
“Aku ada presentasi jam sembilan,” kataku cepat. “Ini penting banget.”
Dia menoleh, tenang sekali. “Saya juga.”
“Serius?”
“Iya.”
Lift tetap diam.
Aku menarik napas pendek. “Ini gedung mahal banget masa liftnya begini sih.”
Dia tersenyum tipis.
Kok bisa sih orang sesantai itu?
“Ada claustrophobia?” tanyanya.
“Enggak. Cuma benci kehilangan kontrol.”
“Oh. Jadi bukan takut ruang sempit. Tapi takut situasi yang nggak sesuai rencana.”
Aku melirik tajam. “Kamu psikolog?”
“Bukan. Konsultan proyek.”
Aku menghela napas.
“By the way,” katanya, mengulurkan tangan. “Raka Mahendra.”
Aku menatap tangannya beberapa detik sebelum menjabat.
“Kirana.”
Tangannya hangat. Pegasnya pas. Tidak berlebihan.
Aneh. Di situasi begini aku masih sempat memperhatikan detail.
Lampu lift berkedip lagi.
“Kalau sampai jam sembilan kita masih di sini, kamu mau ngapain?” tanyanya santai.
“Mendobrak pintu.”
Dia tertawa kecil.
Tawa yang… mengganggu fokusku.
Tapi entah kenapa membuat panikku sedikit turun.
—
Dua puluh menit kemudian, lift akhirnya bergerak lagi.
Begitu pintu terbuka di lantai dua belas, aku hampir berlari keluar.
Raka mengikutiku.
Kami berhenti bersamaan di depan ruang meeting yang sama.
Kami saling menatap.
“Jangan bilang…” kataku pelan.
Dia tersenyum miring.
“Proyek Skyline Residence?”
Aku terdiam.
Oh tidak.
“Jadi kamu…?”
“Perwakilan investor.”
Tentu saja.
Dari semua orang di Jakarta, kenapa harus dia.
—
Presentasi berjalan menegangkan.
Aku berdiri di depan layar, menjelaskan konsep desain dengan suara yang kuusahakan stabil.
Beberapa kali mataku tanpa sengaja bertemu dengannya.
Dia tidak terlihat menghakimi.
Tidak juga terlalu ramah.
Hanya memperhatikan.
Serius.
Setelah selesai, ruangan hening beberapa detik.
Lalu dia angkat bicara.
“Konsepnya menarik.”
Aku menunggu kata “tapi”.
“Struktur parkirnya bisa lebih efisien.”
Nah. Itu dia.
Aku menjawab argumennya dengan tenang. Diskusi berlangsung cukup sengit.
Dia cerdas. Terlalu cerdas.
Dan menyebalkan karena benar di beberapa poin.
Tapi juga… menghargai.
Tidak memotong.
Tidak meremehkan.
Rapat berakhir dengan keputusan: revisi kecil, lanjut tahap berikutnya.
Aku menghela napas lega begitu keluar ruangan.
“Hey.”
Aku menoleh. Dia berdiri beberapa langkah di belakangku.
“Lift pagi tadi,” katanya. “Lumayan bikin kenal.”
“Aku nggak merasa kita kenal.”
Dia tertawa kecil. “Oke. Minimal pernah terjebak bersama.”
Aku memutar mata.
“Ngopi?” tanyanya tiba tiba.
“Kenapa?”
“Karena kita bakal kerja bareng beberapa bulan ke depan. Dan aku lebih s**a kenal partner proyekku sebelum debat lagi.”
Aku ragu.
Tapi ini proyek besar. Profesional.
“Sepuluh menit,” jawabku akhirnya.
—
Kafe di lantai dasar tidak terlalu ramai.
Kami duduk berhadapan.
Tanpa presentasi. Tanpa layar. Tanpa formalitas.
“Kamu selalu se-tegang itu?” tanyanya.
“Aku nggak tegang.”
“Kamu mencengkeram gelas kopi terlalu kuat.”
Aku melepas sedikit genggamanku.
Memalukan.
“Kamu selalu setenang itu?” balasku.
“Hampir.”
“Hampir?”
Dia tersenyum samar. “Tadi di lift sebenarnya aku juga panik.”
Aku terdiam.
“Kok kelihatannya santai?”
“Karena kalau dua orang panik, situasinya makin buruk.”
Jawaban itu… dewasa.
Aku tidak s**a mengakui, tapi ada sesuatu yang stabil darinya.
Obrolan mengalir.
Tentang pekerjaan. Tentang Jakarta. Tentang mimpi aneh waktu kecil.
Sepuluh menit jadi tiga puluh.
Sampai aku sadar jam sudah lewat.
“Aku harus balik,” kataku.
Dia mengangguk.
Kami berdiri hampir bersamaan.
Jarak kami mendadak lebih dekat dari yang seharusnya.
Tanganku tanpa sengaja menyentuh lengannya.
Hangat.
Matanya turun sebentar ke tanganku, lalu kembali ke wajahku.
Ada jeda kecil.
Bukan canggung.
Lebih seperti pertanyaan yang belum diucapkan.
“Kirana.”
“Iya?”
“Next time kalau lift macet lagi…”
“Apa?”
“Jangan panik sendirian.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Aku nggak panik.”
Dia tersenyum.
“Kita lihat nanti.”
Dia berjalan pergi lebih dulu.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, aku tersenyum sendiri.
Proyek ini akan panjang.
Dan sepertinya… bukan cuma tentang bangunan.
Bersambung…