Cerita Dewasa

Cerita Dewasa Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Cerita Dewasa, Adult Entertainment Service, Jalan Nusa Dua no. 55 Pekanbaru, Pekanbaru.
(2)

Aku tidak pernah berniat menyukai sahabat suamiku sendiri.Tapi setiap kali dia memanggil namaku dengan nada rendah itu, ...
22/02/2026

Aku tidak pernah berniat menyukai sahabat suamiku sendiri.
Tapi setiap kali dia memanggil namaku dengan nada rendah itu, ada sesuatu yang bergetar di dalam dadaku.
Kami hampir ketahuan tadi sore, dan itu justru membuatku makin tak bisa menjauh.

“Kamu bahagia sama dia?” tanyanya tanpa ragu.Aku ingin bilang iya, tapi suaraku justru hilang saat dia menyentuh pinggan...
22/02/2026

“Kamu bahagia sama dia?” tanyanya tanpa ragu.
Aku ingin bilang iya, tapi suaraku justru hilang saat dia menyentuh pinggangku pelan.
Dan sejak detik itu, aku tahu aku sedang melangkah terlalu jauh.




Suamiku bilang dia lembur, tapi justru aku yang berbohong malam ini.Aku bertemu pria yang tahu persis bagaimana membuatk...
22/02/2026

Suamiku bilang dia lembur, tapi justru aku yang berbohong malam ini.
Aku bertemu pria yang tahu persis bagaimana membuatku merasa hidup kembali.
Jika satu pesan masuk sekarang saja, semuanya bisa runtuh. Baca lengkap di komentar!




“Aku masih istri orang.”Tapi caranya menatapku barusan membuatku lupa cincin di jariku sendiri.Dan aku takut, karena tad...
22/02/2026

“Aku masih istri orang.”
Tapi caranya menatapku barusan membuatku lupa cincin di jariku sendiri.
Dan aku takut, karena tadi aku tidak menarik tanganku saat dia menggenggamnya…

Ada cerita baru nieh guys , alurnya bikin ga bisa tidur lho hehe
20/02/2026

Ada cerita baru nieh guys , alurnya bikin ga bisa tidur lho hehe

Season 1 – Part 1: “Lift Lantai Dua Belas” 🏢

Jakarta tidak pernah benar benar tidur.
Tapi pagi itu, aku berharap kota ini berhenti sebentar saja.

Namaku Kirana Adisty.
Arsitek. 29 tahun. Perfeksionis. Sedikit galak kalau kurang tidur.

Dan hari ini… presentasi terpenting dalam karierku.

Aku berdiri di dalam lift gedung perkantoran Sudirman dengan map besar di tangan. Nafasku pelan, mencoba stabil.

Ting.

Lift berhenti di lantai delapan.

Pintu terbuka.

Dan masuklah dia.

Tinggi. Kemeja putih rapi. Wajah terlalu tenang untuk jam setegang ini.

Dia berdiri di sampingku.

Lift tertutup.

Sepuluh detik pertama aman.

Detik kesebelas… goyang.

Lift berhenti mendadak.

Lampu redup.

Aku membeku.

“Please jangan sekarang,” gumamku.

Pria di sampingku menekan tombol darurat.

Tidak ada respon.

Dia mengetuk panel. “Halo?”

Sunyi.

Aku mulai merasakan jantungku tidak bersahabat.

“Aku ada presentasi jam sembilan,” kataku cepat. “Ini penting banget.”

Dia menoleh, tenang sekali. “Saya juga.”

“Serius?”

“Iya.”

Lift tetap diam.

Aku menarik napas pendek. “Ini gedung mahal banget masa liftnya begini sih.”

Dia tersenyum tipis.

Kok bisa sih orang sesantai itu?

“Ada claustrophobia?” tanyanya.

“Enggak. Cuma benci kehilangan kontrol.”

“Oh. Jadi bukan takut ruang sempit. Tapi takut situasi yang nggak sesuai rencana.”

Aku melirik tajam. “Kamu psikolog?”

“Bukan. Konsultan proyek.”

Aku menghela napas.

“By the way,” katanya, mengulurkan tangan. “Raka Mahendra.”

Aku menatap tangannya beberapa detik sebelum menjabat.

“Kirana.”

Tangannya hangat. Pegasnya pas. Tidak berlebihan.

Aneh. Di situasi begini aku masih sempat memperhatikan detail.

Lampu lift berkedip lagi.

“Kalau sampai jam sembilan kita masih di sini, kamu mau ngapain?” tanyanya santai.

“Mendobrak pintu.”

Dia tertawa kecil.

Tawa yang… mengganggu fokusku.

Tapi entah kenapa membuat panikku sedikit turun.



Dua puluh menit kemudian, lift akhirnya bergerak lagi.

Begitu pintu terbuka di lantai dua belas, aku hampir berlari keluar.

Raka mengikutiku.

Kami berhenti bersamaan di depan ruang meeting yang sama.

Kami saling menatap.

“Jangan bilang…” kataku pelan.

Dia tersenyum miring.

“Proyek Skyline Residence?”

Aku terdiam.

Oh tidak.

“Jadi kamu…?”

“Perwakilan investor.”

Tentu saja.

Dari semua orang di Jakarta, kenapa harus dia.



Presentasi berjalan menegangkan.

Aku berdiri di depan layar, menjelaskan konsep desain dengan suara yang kuusahakan stabil.

Beberapa kali mataku tanpa sengaja bertemu dengannya.

Dia tidak terlihat menghakimi.

Tidak juga terlalu ramah.

Hanya memperhatikan.

Serius.

Setelah selesai, ruangan hening beberapa detik.

Lalu dia angkat bicara.

“Konsepnya menarik.”

Aku menunggu kata “tapi”.

“Struktur parkirnya bisa lebih efisien.”

Nah. Itu dia.

Aku menjawab argumennya dengan tenang. Diskusi berlangsung cukup sengit.

Dia cerdas. Terlalu cerdas.

Dan menyebalkan karena benar di beberapa poin.

Tapi juga… menghargai.

Tidak memotong.

Tidak meremehkan.

Rapat berakhir dengan keputusan: revisi kecil, lanjut tahap berikutnya.

Aku menghela napas lega begitu keluar ruangan.

“Hey.”

Aku menoleh. Dia berdiri beberapa langkah di belakangku.

“Lift pagi tadi,” katanya. “Lumayan bikin kenal.”

“Aku nggak merasa kita kenal.”

Dia tertawa kecil. “Oke. Minimal pernah terjebak bersama.”

Aku memutar mata.

“Ngopi?” tanyanya tiba tiba.

“Kenapa?”

“Karena kita bakal kerja bareng beberapa bulan ke depan. Dan aku lebih s**a kenal partner proyekku sebelum debat lagi.”

Aku ragu.

Tapi ini proyek besar. Profesional.

“Sepuluh menit,” jawabku akhirnya.



Kafe di lantai dasar tidak terlalu ramai.

Kami duduk berhadapan.

Tanpa presentasi. Tanpa layar. Tanpa formalitas.

“Kamu selalu se-tegang itu?” tanyanya.

“Aku nggak tegang.”

“Kamu mencengkeram gelas kopi terlalu kuat.”

Aku melepas sedikit genggamanku.

Memalukan.

“Kamu selalu setenang itu?” balasku.

“Hampir.”

“Hampir?”

Dia tersenyum samar. “Tadi di lift sebenarnya aku juga panik.”

Aku terdiam.

“Kok kelihatannya santai?”

“Karena kalau dua orang panik, situasinya makin buruk.”

Jawaban itu… dewasa.

Aku tidak s**a mengakui, tapi ada sesuatu yang stabil darinya.

Obrolan mengalir.

Tentang pekerjaan. Tentang Jakarta. Tentang mimpi aneh waktu kecil.

Sepuluh menit jadi tiga puluh.

Sampai aku sadar jam sudah lewat.

“Aku harus balik,” kataku.

Dia mengangguk.

Kami berdiri hampir bersamaan.

Jarak kami mendadak lebih dekat dari yang seharusnya.

Tanganku tanpa sengaja menyentuh lengannya.

Hangat.

Matanya turun sebentar ke tanganku, lalu kembali ke wajahku.

Ada jeda kecil.

Bukan canggung.

Lebih seperti pertanyaan yang belum diucapkan.

“Kirana.”

“Iya?”

“Next time kalau lift macet lagi…”

“Apa?”

“Jangan panik sendirian.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Aku nggak panik.”

Dia tersenyum.

“Kita lihat nanti.”

Dia berjalan pergi lebih dulu.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, aku tersenyum sendiri.

Proyek ini akan panjang.

Dan sepertinya… bukan cuma tentang bangunan.

Bersambung…

20/02/2026

“Aku tidak pernah berniat jatuh cinta pada atasanku sendiri.”
Tapi kenapa setiap rapat berubah jadi medan perang antara logika dan rasa?

Ada orang yang awalnya cuma lewat.Nggak direncanakan, nggak diharapkan.Tapi makin lama malah bikin nyaman.Bikin kamu nun...
20/02/2026

Ada orang yang awalnya cuma lewat.
Nggak direncanakan, nggak diharapkan.
Tapi makin lama malah bikin nyaman.
Bikin kamu nungguin tanpa sadar.
Siapa yang lagi kamu tunggu kabarnya malam ini?

Awalnya cuma balas story.
Lalu lanjut chat sampai lupa waktu.
Lalu mulai saling kirim perhatian kecil.
Dan tanpa sadar, hati mulai ikut campur.
Pernah kejebak di alur kayak gini?

Cerita ini bakal bikin kamu senyum tipis sendiri.
Bikin kamu inget momen yang hampir kejadian.
Bikin kamu ngerasa “kok mirip ya sama aku?”.
Dan bikin kamu pengen tahu kelanjutannya.
Baca novelnya full tanpa sensor sekarang juga 👇
https://www.facebook.com/share/p/1Brw7A8zWL/

14/02/2026
Perlahan, dia tarik aku mendekat.Bukan tiba-tiba.Bukan memaksa.Tapi pelan, penuh hati-hati.Seolah dia nunggu aku bilang ...
04/12/2025

Perlahan, dia tarik aku mendekat.
Bukan tiba-tiba.
Bukan memaksa.
Tapi pelan, penuh hati-hati.
Seolah dia nunggu aku bilang “iya” tanpa kata-kata.

Dan aku nggak nolak sama sekali.




👉 Kalau kamu, tarik napas panjang atau langsung bersandar?
https://web.facebook.com/share/p/1CaTVChiFP/



























cerita dewasa
novel dewasa

“Tolong jangan kemana-mana malam ini,” katanya pelan.Nada suaranya kayak seseorang yang udah terlalu lama nahan rindu.Ak...
04/12/2025

“Tolong jangan kemana-mana malam ini,” katanya pelan.
Nada suaranya kayak seseorang yang udah terlalu lama nahan rindu.

Aku ngerasain dadaku berat, tapi hangat.
Ada rasa yang nggak pernah berani aku akui sebelumnya.

Aku cuma angguk, pelan, tanpa suara.




👉 Kalau kamu, jawab pelan atau biarin gestur yang ngomong?
https://web.facebook.com/share/p/1brcT46nrM/



























cerita dewasa
novel dewasa

Hening setelah kalimat itu terasa panjang.Dia maju sedikit, jaraknya tinggal beberapa senti.Aku bisa ngerasain hangat na...
04/12/2025

Hening setelah kalimat itu terasa panjang.
Dia maju sedikit, jaraknya tinggal beberapa senti.
Aku bisa ngerasain hangat napasnya, deket banget.

Tangannya masih nggak lepas dari jemariku.




👉 Kalau kamu, tutup mata dulu atau tetap saling pandang?
https://web.facebook.com/share/p/1DQusZL4mt/



























cerita dewasa
novel dewasa

Akhirnya notif masuk, cuma tiga kata:“Aku s**a kamu.”Tanganku langsung gemeteran baca itu.Rasanya semua suara di dunia h...
02/12/2025

Akhirnya notif masuk, cuma tiga kata:
“Aku s**a kamu.”
Tanganku langsung gemeteran baca itu.
Rasanya semua suara di dunia hilang kecuali detak jantungku sendiri.




👉 Kalau kamu, bales cepat atau tarik napas dulu lama-lama?
https://web.facebook.com/share/p/1a9kiTdFiB/



























cerita dewasa
novel dewasa

Address

Jalan Nusa Dua No. 55 Pekanbaru
Pekanbaru
154112

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita Dewasa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share